Ethiopia dan Eritrea Saling Tuduh Memicu Perang, Pemberontak Tigray Mulai Mundur

Warkini International — Ketegangan di Tanduk Afrika kembali memanas. Ethiopia dan Eritrea pada Jumat saling melontarkan tuduhan sebagai pihak yang memulai

Ethiopia dan Eritrea Saling Tuduh Memicu Perang, Pemberontak Tigray Mulai Mundur

Warkini International — Ketegangan di Tanduk Afrika kembali memanas. Ethiopia dan Eritrea pada Jumat saling melontarkan tuduhan sebagai pihak yang memulai "perang agresi", hanya beberapa hari setelah kedua negara memutuskan hubungan diplomatik yang telah lama terjalin. Situasi ini menandai eskalasi paling serius dalam hubungan bilateral kedua negara sejak perjanjian damai 2018 yang sempat mengakhiri dua dekade permusuhan.

Menurut laporan yang dihimpun dari berbagai sumber, pejabat Ethiopia memperkirakan hingga 8.000 tentara Eritrea saat ini berada di wilayah Tigray. Kehadiran pasukan tersebut disebut-sebut untuk mendukung kelompok pemberontak yang pada bulan lalu melancarkan serangan terhadap pasukan federal Ethiopia. Tuduhan ini dibantah keras oleh pihak Eritrea, yang justru menuding Addis Ababa sebagai pihak yang sengaja menciptakan provokasi untuk membenarkan operasi militer baru.

"Kami tidak akan tinggal diam ketika kedaulatan kami diinjak-injak. Setiap inci wilayah Eritrea akan kami pertahankan dengan segala cara," tegas seorang pejabat tinggi Eritrea yang enggan disebutkan namanya.

Di sisi lain, juru bicara pemerintah Ethiopia menyatakan bahwa kehadiran pasukan Eritrea di Tigray merupakan bukti nyata intervensi asing dalam konflik domestik mereka. Ia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan tegas guna mencegah perang terbuka yang lebih luas.

Pemberontak Tigray Mulai Mundur dari Sejumlah Front

Di tengah memanasnya retorika kedua negara, sumber-sumber lapangan melaporkan bahwa pemberontak Tigray mulai menarik diri dari beberapa titik pertempuran utama. Mundurnya pasukan pemberontak ini diduga kuat akibat tekanan militer yang semakin intensif serta berkurangnya pasokan logistik setelah jalur utama terputus.

Pengamat keamanan regional menilai bahwa penarikan mundur ini bisa menjadi pertanda dua hal: pertama, upaya konsolidasi kekuatan untuk serangan balik, atau kedua, tanda melemahnya kapasitas militer pemberontak setelah berbulan-bulan bertempur melawan pasukan federal.

  • 8.000 tentara Eritrea dilaporkan berada di Tigray menurut estimasi pejabat Ethiopia.
  • Hubungan diplomatik Ethiopia-Eritrea resmi diputus beberapa hari sebelum saling tuduh ini muncul.
  • Pemberontak Tigray mulai mundur dari sejumlah front pertempuran utama.
  • Masyarakat internasional diminta segera melakukan intervensi diplomatik untuk mencegah perang terbuka.

Dampak Kemanusiaan dan Seruan Internasional

Konflik yang berlarut-larut ini semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah Tigray dan sekitarnya. Ribuan warga dilaporkan mengungsi ke wilayah perbatasan, sementara akses bantuan kemanusiaan semakin sulit dijangkau akibat ketidakstabilan keamanan. Organisasi internasional mendesak kedua negara untuk menahan diri dan membuka jalur dialog damai.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah korban jiwa dari bentrokan terbaru. Namun, kekhawatiran akan pecahnya perang skala penuh antara Ethiopia dan Eritrea terus meningkat seiring saling tuduh yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Warkini International akan terus memantau perkembangan situasi di Tanduk Afrika dan memberikan pembaruan terkini bagi pembaca.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bobby-hartono

Editor Lifestyle. Mantan editor majalah lifestyle. Fokus pada tren, gaya hidup urban, dan budaya pop.

Comments (0)

User