Israel Disebut Lakukan Penahanan Sewenang-wenang di Suriah Selatan
Militer Israel dilaporkan telah menangkap lebih dari 200 orang di wilayah Suriah selatan sejak runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024. Data ini
Militer Israel dilaporkan telah menangkap lebih dari 200 orang di wilayah Suriah selatan sejak runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024. Data ini dihimpun oleh Sijil Centre, sebuah lembaga pemantau yang secara khusus melacak aktivitas militer Israel di wilayah Suriah. Angka tersebut memicu kekhawatiran serius dari berbagai pihak, termasuk warga sipil, mantan tahanan, hingga keluarga korban yang hingga kini belum mengetahui nasib kerabat mereka.
Sijil Centre mencatat bahwa penangkapan-penangkapan itu tersebar di beberapa wilayah selatan Suriah, terutama di area yang berbatasan langsung dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel. Lembaga ini menyebut pola penangkapan berlangsung secara sistematis dan menyasar warga sipil, bukan hanya kombatan bersenjata.
Kronologi dan Latar Belakang Kejadian
- Desember 2024: Rezim Bashar al-Assad runtuh setelah bertahun-tahun konflik berkepanjangan, meninggalkan kekosongan kekuasaan di banyak wilayah Suriah, termasuk zona selatan.
- Pasca-keruntuhan: Militer Israel memperluas operasi militer ke wilayah Suriah selatan dengan alasan menjaga keamanan perbatasan dan mencegah masuknya kelompok bersenjata.
- Selama 2024–2025: Sijil Centre mendokumentasikan lebih dari 200 kasus penangkapan terhadap warga Suriah, banyak di antaranya terjadi tanpa proses hukum yang jelas.
- Pernyataan militer Israel: Pihak militer mengklaim operasi dilakukan untuk menargetkan "tersangka teroris" dan menjaga stabilitas kawasan perbatasan.
- Respons saksi dan keluarga: Sejumlah saksi mata mengecam penangkapan yang dinilai sewenang-wenang, sementara mantan tahanan mengungkap kondisi penahanan yang memprihatinkan.
Kesaksian Saksi dan Kekhawatiran Keluarga
Beberapa saksi mata yang berbicara kepada media internasional menggambarkan penangkapan yang terjadi secara tiba-tiba, sering kali tanpa surat perintah atau penjelasan resmi. Warga mengaku tidak diberi informasi mengenai alasan penangkapan maupun tempat kerabat mereka dibawa.
"Mereka datang tengah malam, membawa saudara saya tanpa menjelaskan apa pun. Sampai sekarang kami tidak tahu di mana dia berada," ujar seorang warga Suriah selatan yang identitasnya dirahasiakan.
Mantan tahanan yang berhasil dibebaskan melaporkan kondisi penahanan yang keras, termasuk interogasi panjang, akses terbatas terhadap air bersih, dan kurangnya layanan medis dasar. Mereka juga menyebut tidak adanya akses untuk menghubungi keluarga atau mendapatkan bantuan hukum.
Reaksi Internasional dan Sorotan Hukum
Penangkapan massal ini memicu perdebatan soal legalitas operasi militer Israel di wilayah Suriah. Sejumlah organisasi hak asasi manusia menilai praktik tersebut berpotensi melanggar hukum humaniter internasional, terutama jika warga sipil ditahan tanpa dasar hukum yang jelas. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi jumlah pasti tahanan maupun status hukum mereka.
Keluarga para tahanan terus menyerukan transparansi, mendesak agar informasi mengenai keberadaan dan kondisi kerabat mereka segera diungkap. Situasi ini menambah kompleksitas situasi kemanusiaan di Suriah selatan pasca-rezim Assad, ketika wilayah tersebut masih berjuang menata stabilitas di tengah ketegangan geopolitik kawasan.
Comments (0)