Kontroversi baru mengguncang dunia keuangan Inggris setelah dokumen hukum mengungkap dugaan bahwa bos regulator keuangan terbesar di Negeri Ratu Elizabeth mengancam kelompok perlindungan konsumen dengan "konsekuensi buruk" jika mereka berani menggugat skema kompensasi senilai £9,1 miliar atau setara Rp185 triliun terkait skandal pembiayaan mobil.
Nikhil Rathi, Kepala Eksekutif Financial Conduct Authority (FCA), diduga memberikan peringatan keras kepada direktur Consumer Voice (CV) dalam sebuah panggilan Microsoft Teams pada 27 April lalu — tepat sebelum batas waktu pengajuan gugatan hukum terhadap skema kompensasi yang diusulkan FCA. Peristiwa ini menjadi babak baru dalam skandal pembiayaan mobil terbesar dalam sejarah Inggris yang melibatkan jutaan konsumen yang diduga dirugikan sejak 2007 hingga 2024.
Dugaan Ancaman dalam Panggilan Virtual
Berdasarkan dokumen hukum yang diulas The Guardian, Rathi secara terang-terangan memperingatkan bahwa FCA "tidak akan dapat berkolaborasi" dengan Consumer Voice jika organisasi tersebut memutuskan untuk mengambil langkah hukum terhadap skema kompensasi. Lebih jauh lagi, Rathi diduga mengisyaratkan bahwa akan ada "konsekuensi buruk" bagi masa depan hubungan Consumer Voice dengan FCA, termasuk briefing pers yang merugikan terhadap organisasi tersebut.
"Implikasinya sangat jelas: kesediaan FCA untuk terlibat secara konstruktif dengan CV bergantung pada tidak adanya tantangan hukum dari CV, dan akan berubah menjadi permusuhan jika tantangan itu diajukan," demikian bunyi dokumen pengadilan yang diajukan ke pengadilan banding Inggris (Upper Tribunal).
Dokumen tersebut juga mengungkap bahwa hingga saat panggilan berlangsung, FCA telah memperlakukan Consumer Voice sebagai "badan konsumen ahli yang terpercaya." Namun begitu organisasi tersebut memutuskan untuk menantang skema kompensasi, posisi FCA berubah drastis. "Sekarang FCA berusaha meremehkan aktivitas dan motif CV dalam mengajukan gugatan ini," demikian tertulis dalam dokumen hukum.
Skema Kompensasi yang Dipertanyakan
Skandal pembiayaan mobil Inggris berawal dari praktik komisi tersembunyi antara pemberi pinjaman dan dealer mobil. Konsumen yang membeli kendaraan dengan skema pembiayaan tidak menyadari bahwa dealer menerima komisi dari pemberi pinjaman, yang pada gilirannya membuat suku bunga pinjaman menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya. Praktik ini berlangsung selama hampir dua dekade dan menyangkut jutaan transaksi.
FCA sebelumnya telah mengumumkan skema kompensasi yang menawarkan pembayaran rata-rata sebesar £830 per pinjaman, dengan total dana kompensasi sekitar £7,5 miliar dari 12,1 juta perjanjian pinjaman yang memenuhi syarat. Jumlah ini sebenarnya lebih rendah dari £14 miliar yang semula diusulkan dan jauh di bawah estimasi £44 miliar yang sempat diprediksi analis saat spekulasi skandal ini memuncak.
Consumer Voice, yang didirikan oleh mantan staf Which? yaitu Nikki Stopford dan Alex Neill pada 2023, merupakan satu-satunya organisasi yang menyeruh kompensasi lebih besar bagi pengemudi yang menjadi korban markup harga akibat praktik komisi tersebut. Menurut mereka, skema FCA saat ini terlalu menguntungkan pihak pemberi pinjaman yang khawatir dengan tagihan besar, sementara konsumen yang seharusnya dilindungi justru mendapat kompensasi yang tidak memadai.
Balasan FCA terhadap Tuduhan
Juru bicara FCA membantah keras karakterisasi panggilan tersebut. "Kami tidak mengenali cara percakapan ini dideskripsikan," ujar juru bicara FCA, menambahkan bahwa petugas telah berbicara dengan berbagai pihak, termasuk pemberi pinjaman dan perusahaan klaim, menjelang batas waktu pengajuan gugatan.
FCA bersikeras bahwa tujuan panggilan tersebut adalah untuk "menjelaskan implikasi bagi konsumen" dan bahwa mereka akan "mempertahankan skema secara tegas sebagai cara terbaik untuk membayar kompensasi." FCA juga mengklaim bahwa mereka tidak mengetahui rencana gugatan dari tiga pemberi pinjaman spesialis — Volkswagen Financial Services, Mercedes-Benz Financial Services, dan Crédit Agricole Auto Finance — hingga setelah panggilan tersebut berlangsung.
"Kami tetap tegas dan yakin dalam tantangan kami atas nama jutaan konsumen yang dirugikan oleh skema kompensasi ini," kata Alex Neill, salah satu pendiri Consumer Voice.
Dampak terhadap Jutaan Korban
Skandal ini memiliki dampak yang sangat luas. Diperkirakan sekitar 75% konsumen yang memenuhi syarat akan mengajukan klaim, yang berarti jutaan warga Inggris berpotensi menerima kompensasi. Namun, jika tantangan hukum berhasil memperlambat skema, pembayaran bisa tertunda selama bertahun-tahun — sebuah prospek yang mengkhawatirkan bagi banyak rumah tangga yang sudah berjuang dengan tekanan biaya hidup.
Martin Lewis, pakar keuangan terkemuka di Inggris, mendesak pendengarnya untuk mengajukan kompresi secara independen. "Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah Anda menjadi korban penjualan yang salah saat ini adalah dengan mengajukan keluhan. Untuk mengetahui apakah Anda punya keluhan, Anda harus mengajukan keluhan. Anda tidak punya cara lain," tegasnya dalam podcast BBC.
Sementara itu, FCA dan para pemberi pinjaman secara konsisten memperingatkan konsumen agar tidak menggunakan firma hukum klaim yang membebankan biaya hingga 33% dari total pembayaran kompensasi. Skema FCA, di sisi lain, dapat digunakan secara gratis.
Pertarungan Hukum yang Berkepanjangan
Kasus ini menjadi cerminan dari ketegangan yang berkelanjutan antara kepentingan industri keuangan dan perlindungan konsumen. Pemerintah Inggris, termasuk Menteri Keuangan Rachel Reeves, sebelumnya telah menerima lobi intensif dari industri pembiayaan mobil. Reeves bahkan sempat mempertimbangkan untuk mengabaikan putusan Mahkamah Agung setelah ada klaim bahwa pengadilan tersebut terlalu berpihak kepada peminjam.
Sementara tiga pemberi pinjaman spesialis memilih untuk tidak menggugat, Consumer Voice tetap bersikeras bahwa skema kompensasi yang diusulkan FCA "merugikan konsumen." Organisasi tersebut berargumen bahwa rata-rata kompensasi £830 terlalu kecil mengingat besarnya kerugian yang dialami jutaan konsumen selama hampir dua dekade.
Kontroversi ini juga menyoroti pertanyaan fundamental tentang integritas regulator. Jika tuduhan terhadap Rathi terbukti benar, hal ini akan menimbulkan keraguan serius terhadap independensi FCA dalam menjalankan tugasnya melindungi konsumen — sebuah lembaga yang seharusnya berdiri di atas kepentingan industri maupun politik.
Comments (0)