Tekanan Bertubi pada Petani Ancam Ketahanan Pangan Inggris

Di tengah hamparan lahan pertanian di Norfolk, Inggris timur, Jamie Burrows duduk di balik kemudi traktornya. Ia bukan sedang mengeluh soal cuaca, melainka

Tekanan Bertubi pada Petani Ancam Ketahanan Pangan Inggris

Di tengah hamparan lahan pertanian di Norfolk, Inggris timur, Jamie Burrows duduk di balik kemudi traktornya. Ia bukan sedang mengeluh soal cuaca, melainkan soal sesuatu yang jauh lebih mendasar: bagaimana ia harus membiayai benih yang seharusnya sudah ia tanam di tanahnya sendiri.

Pertanyaan itu kini menjadi semacam mantra di kalangan produsen pangan Inggris. Para petani—dari yang menggarap lahan arabel hingga peternak—secara bertahap ikut menyuarakan peringatan yang selama ini hanya datang dari ekonom dan analis rantai pasok: bahwa pasokan pangan Britania berada dalam posisi yang jauh lebih rapuh dari yang terlihat di rak-rak supermarket.

Suara dari Kursi Traktor

Burrows menggambarkan dirinya bukan sebagai pengecualian, melainkan bagian dari kelompok besar petani yang produktif dan efisien. Masalahnya bukan soal kemampuan bertani, melainkan soal aritmatika dasar: modal yang harus dikeluarkan lebih besar, sementara kepastian pendapatan justru menyusut.

"Ada begitu banyak petani arabel yang layak, cakap, produktif, dan efisien di luar sana, yang kini bertanya-tanya bagaimana mereka seharusnya membiayai tanaman yang seharusnya mereka masukkan ke dalam tanah," ujarnya.

Kalimat itu merangkum inti persoalan. Petani tidak berhenti bertani karena malas atau tidak kompeten, tetapi karena struktur biaya dan harga tidak lagi memberi ruang untuk bernapas.

Rangkaian Tekanan yang Datang Beruntun

Jika ditarik ke belakang, ada sejumlah titik yang membuat posisi petani Inggris kian terjepit. Berikut urutan persoalan yang paling sering disebut para produsen pangan:

  1. Perubahan skema subsidi pasca-Brexit. Peralihan dari pembayaran lahan langsung ke skema berbasis lingkungan membuat banyak petani kehilangan sumber pendapatan yang sebelumnya menopang arus kas tahunan.
  2. Biaya input yang melonjak. Pupuk, bahan bakar, pakan, dan energi naik tajam, sementara harga jual tidak bergerak secepat itu.
  3. Cuaca ekstrem yang bergantian. Musim basah berkepanjangan membuat lahan sulit ditanami, sementara kekeringan di periode lain menekan hasil panen.
  4. Posisi tawar lemah di hadapan peritel. Harga ditentukan pembeli besar, sehingga margin petani terus tergerus.
  5. Kekurangan tenaga kerja musiman. Regulasi pasca-Brexit mempersempit akses ke pekerja musiman yang selama ini jadi tulang punggung panen.

Ketika Petani Menyerah, Rak Ikut Kosong

Masalahnya bertingkat. Ketika petani memutuskan tidak menanam, tidak ada yang bisa langsung menggantikan mereka. Lahan pertanian tidak bisa "dihidupkan" kembali dalam satu musim. Ini yang membuat sejumlah pihak menyebut isu ini bukan lagi soal ekonomi sektor, melainkan soal ketahanan pangan nasional.

Peringatan semacam ini sekarang datang dari banyak pihak sekaligus: asosiasi produsen, koperasi petani, hingga pelaku industri pengolahan. Mereka tidak lagi bicara tentang satu komoditas, tetapi tentang kemampuan negara memberi makan warganya sendiri.

Peringatan yang Tak Lagi Tunggal

Yang berubah dalam beberapa waktu terakhir adalah nada peringatannya. Dulu, keluhan petani sering dianggap sebagai suara sektoral. Sekarang, produsen pangan menambahkan suara mereka ke dalam paduan peringatan yang lebih luas tentang kerapuhan rantai pasok Britania—sebuah sistem yang selama ini dianggap kokoh justru karena selalu ada isinya.

Burrows dan ribuan petani lain di Norfolk dan sekitarnya tidak sedang meminta simpati. Mereka meminta kepastian. Dan tanpa kepastian itu, kalimat paling mengganggu dari peringatan ini akan terus terngiang: sebagian dari mereka memang tidak akan bertahan.

Jika itu terjadi, dampaknya tidak berhenti di gerbang peternakan. Ia berjalan lurus menuju dapur rumah tangga di seluruh Inggris.

Petani arabel di Norfolk kesulitan membiayai benih yang seharusnya ditanam. Penyebabnya berlapis: skema subsidi pasca-Brexit, lonjakan biaya input, cuaca ekstrem, posisi tawar lemah di hadapan peritel, dan kekurangan tenaga kerja musiman. Ketika petani berhenti menanam, lahan tidak bisa dihidupkan dalam satu musim. Peringatan soal kerapuhan rantai pasok kini datang dari banyak pihak sekaligus.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
kimberly-sutanto

Reporter Hiburan. Meliput film, musik, dan selebriti Indonesia.

Comments (0)

User