warkini.
Business

Survei: Perempuan Pekerja Seni Inggris Rasakan Ketimpangan Kesempatan

Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa perempuan yang bekerja di sektor seni di Inggris merasa mereka tidak mendapatkan kesempatan yang setara untuk me

Survei: Perempuan Pekerja Seni Inggris Rasakan Ketimpangan Kesempatan

Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa perempuan yang bekerja di sektor seni di Inggris merasa mereka tidak mendapatkan kesempatan yang setara untuk mendapatkan peran dan posisi dalam industri kreatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa industri seni secara khusus terobsesi dengan bakat muda dan emergentes, sementara perempuan yang lebih tua menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dalam mengembangkan karier mereka.

Temuan Utama Survei

Penelitian yang dilakukan terhadap 76 profesional di bidang seni ini menghasilkan temuan yang sangat memprihatinkan. Hampir seluruh perempuan yang disurvei, yakni sebesar 95%, menyatakan bahwa ketidaksetaraan gender masih persist di industri seni. Angka ini menunjukkan bahwa masalah diskriminasi gender bukan sekadar persepsi, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh mayoritas perempuan yang bekerja di sektor ini.

Selain itu, sebanyak 75% perempuan melaporkan pernah mengalami bias tidak sadar atau seksisme dalam lingkungan kerja mereka. Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik diskriminasi sering kali terjadi secara tidak sengaja, di mana atasan atau rekan kerja mungkin tidak menyadari bahwa perilaku mereka merugikan perempuan. Namun demikian, dampaknya tetap signifikan terhadap karier dan kesejahteraan mental para korban.

Diskriminasi Berbasis Usia

Salah satu temuan paling mencolok dari laporan ini adalah dampak usia terhadap keberhasilan karier perempuan di sektor seni. Lebih dari dua pertiga atau 69% perempuan merasa bahwa usia mereka berdampak negatif terhadap keberhasilan karier mereka. Angka ini meningkat drastis menjadi 100% di kalangan perempuan yang bekerja di peran artistik, dibandingkan dengan mereka yang menduduki posisi manajerial.

Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan yang aktif menciptakan karya seni, seperti seniman visual, penulis, sutradara, atau performer, menghadapi tekanan yang jauh lebih besar terkait usia mereka dibandingkan dengan perempuan yang bekerja di belakang layar dalam kapasitas manajerial. Hal ini mengindikasikan adanya standar ganda dalam industri, di mana perempuan di lini kreatif dianggap "terlalu tua" sementara perempuan di posisi manajerial memiliki fleksibilitas yang lebih besar.

Obsesi Industri dengan Talent Muda

Laporan tersebut menyoroti bahwa industri seni Inggris secara khusus terobsesi dengan "bakat muda dan emergentes". Fenomena ini menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi perempuan yang telah berkarier lama di industri dan ingin terus berkarya di usia yang lebih matang. Ekspektasi bahwa seni harus selalu segar, baru, dan berasal dari generasi muda menciptakan tekanan yang tidak proporsional terhadap perempuan.

"Industri seni perlu menyadari bahwa pengalaman dan kedewasaan artistik adalah aset berharga. Mengabaikan perempuan berbakat hanya karena usianya adalah kehilangan besar bagi kreativitas dan kekayaan budaya kita," tulis para peneliti dalam laporan mereka.

Obsesi ini tidak hanya merugikan perempuan secara individual, tetapi juga berdampak pada keberagaman suara dan perspektif dalam karya seni yang dihasilkan. Ketika industri didominasi oleh suara-suara muda, sudut pandang dan pengalaman yang hanya bisa datang dari perempuan yang lebih tua menjadi terpinggirkan.

Dampak Terhadap Industri

Ketidaksetaraan yang dialami perempuan di sektor seni bukan hanya masalah keadilan sosial, tetapi juga masalah strategis bagi industri itu sendiri. Dengan mengabaikan atau memarginalisasi perempuan berpengalaman, industri kehilangan sumber daya manusia yang bernilai tinggi. Pengalaman bertahun-tahun, jaringan profesional, dan kedalaman pemahaman tentang pasar dan audiens adalah aset yang tidak bisa direplikasi oleh bakat muda yang belum berpengalaman.

Lebih lanjut, lingkungan kerja yang diskriminatif juga berdampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja. Perempuan yang mengalami bias tidak sadar atau seksisme secara kronis cenderung mengalami stres, kecemasan, dan burnout yang dapat mengganggu produktivitas dan kreativitas mereka.

Rekomendasi dan Langkah ke Depan

Laporan ini mengajukan beberapa rekomendasi untuk mengatasi ketimpangan yang ada. Pertama, industri seni perlu melakukan audit gender secara menyeluruh untuk mengidentifikasi area-area di mana diskriminasi terjadi. Kedua, diperlukan program mentoring dan pengembangan karier yang secara khusus mendukung perempuan di semua tahap karier mereka, termasuk perempuan yang lebih tua.

Ketiga, industri perlu menantang stereotip yang mengaitkan kreativitas dengan usia muda. Cerita sukses perempuan yang terus berkarya di usia matang perlu disorot dan dirayakan sebagai contoh bahwa seni tidak mengenal batas usia. Terakhir, diperlukan pelatihan kesadaran unconscious bias untuk semua pekerja di industri seni, agar setiap individu memahami bagaimana perilaku mereka dapat berdampak pada kolega mereka.

Dengan langkah-langkah konkret ini, industri seni Inggris diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan setara bagi semua pekerja, tanpa memandang gender atau usia. Pada akhirnya, industri yang beragam dan inklusif akan menghasilkan karya seni yang lebih kaya, lebih mendalam, dan lebih mencerminkan kompleksitas pengalaman manusia.

Survei ini dilakukan oleh organisasi riset Independen yang berfokus pada isu kesetaraan di sektor kreatif. Mereka berharap temuan ini dapat menjadi pemantik diskusi lebih lanjut dan perubahan kebijakan di industri seni Inggris.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bobby-hartono

Editor Lifestyle. Mantan editor majalah lifestyle. Fokus pada tren, gaya hidup urban, dan budaya pop.

Comments (0)

User

Popular Posts

Recommended Posts

Popular Tags

Voting Poll