warkini.
Entertainment

Roger Waters dan Annie Ernaux Desak Venesia Bertindak untuk Palestina

Penulis peraih Nobel Sastra Annie Ernaux, salah satu pendiri grup musik legendaris Pink Floyd Roger Waters, serta sutradara Isabel Coixet dan Matteo Garron

Roger Waters dan Annie Ernaux Desak Venesia Bertindak untuk Palestina

Penulis peraih Nobel Sastra Annie Ernaux, salah satu pendiri grup musik legendaris Pink Floyd Roger Waters, serta sutradara Isabel Coixet dan Matteo Garrone menjadi sebagian dari penandatangan surat terbuka yang dirilis pada Jumat (28/8/2026). Surat tersebut mendesak penyelenggara Festival Film Venesia untuk mengambil tindakan nyata dalam mendukung Palestina di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Inisiatif ini lahir dari kolektif Venice4Palestine, kelompok yang sebelumnya pernah meluncurkan gerakan serupa pada penyelenggaraan festival tahun lalu. Kehadiran nama-nama besar dari dunia sastra, musik, dan perfilman menunjukkan isu Palestina kini menjadi perhatian lintas disiplin seni, bukan sekadar wacana politik belaka.

"Kami mendesak Festival Film Venesia untuk mengambil tindakan konkret dalam mendukung Palestina," demikian salah satu poin inti surat terbuka yang dikutip sejumlah media internasional.

Kronologi Aksi Kolektif Venice4Palestine

Gerakan ini tidak muncul dalam semalam. Berikut rangkaian kejadian yang dapat ditelusuri:

  1. Pada penyelenggaraan Festival Film Venesia tahun lalu, kolektif Venice4Palestine untuk pertama kalinya meluncurkan inisiatif serupa dan mendapat respons dari sebagian komunitas perfilman dunia.
  2. Selama setahun terakhir, kolektif terus menggalang dukungan dari seniman, penulis, dan sineas dari berbagai negara agar tuntutan mereka semakin kuat.
  3. Pada Jumat (28/8/2026), surat terbuka resmi dirilis dengan daftar penandatangan yang jauh lebih luas, mencakup peraih Nobel dan tokoh musik kelas dunia.
  4. Surat itu beredar tepat ketika dunia perfilman bersiap menyambut gelaran Festival Film Venesia, sehingga tekanan publik terhadap penyelenggara semakin nyata.

Analisis: Boikot Budaya Kembali Menguji Festival Besar

Langkah Venice4Palestine menegaskan bahwa isu kemanusiaan di Palestina telah merambah panggung budaya global. Festival film terbesar di dunia, termasuk Venesia, kini kerap dihadapkan pada tuntutan untuk bersikap, bukan sekadar menjadi etalase karya seni.

"Festival internasional berada di persimpangan antara netralitas dan tanggung jawab moral. Ketika publik mulai menuntut sikap, diam pun bisa dianggap sebagai sebuah pilihan politik," ujar seorang pengamat industri film Eropa kepada media.

Bagi Venesia yang dikenal sebagai salah satu festival tertua dan paling bergengsi di dunia, tekanan semacam ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Keputusan penyelenggara untuk merespons atau mengabaikan surat terbuka akan ikut menentukan citra festival di mata publik global.

Profil Para Penandatangan Terkemuka

Berikut perbandingan singkat latar belakang sejumlah penandatangan utama dalam surat terbuka tersebut:

NamaLatar BelakangRelevansi
Annie ErnauxPenulis Prancis, pemenang Nobel Sastra 2022Suara sastra dunia dalam isu kemanusiaan
Roger WatersPendiri Pink Floyd, musisi dan aktivisFigur paling vokal di industri musik soal Palestina
Isabel CoixetSutradara Spanyol, langganan festival EropaMewakili dunia perfilman Spanyol
Matteo GarroneSutradara Italia, pemenang Golden Lion Venesia 2023 lewat "Io Capitano"Wajah sineas tuan rumah yang kritis

Ernaux, yang memenangkan Nobel Sastra pada 2022, dikenal sebagai penulis yang kerap mengangkat isu sosial dan ketimpangan dalam karya-karyanya. Sementara Waters, yang namanya melekat lewat Pink Floyd sejak 1965, sudah bertahun-tahun menjadi salah satu tokoh paling vokal di dunia musik dalam menyuarakan dukungan terhadap Palestina.

Menariknya, Garrone adalah bagian dari ekosistem Venesia itu sendiri. Filmnya, "Io Capitano", meraih Golden Lion pada Festival Film Venesia 2023. Keterlibatan nama seperti Garrone menunjukkan bahwa tuntutan ini datang bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam lingkaran industri yang selama ini diuntungkan oleh festival tersebut.

Dampak bagi Festival Film Venesia

Festival Film Venesia, yang pertama kali digelar pada 1932, merupakan festival film tertua di dunia dan kerap dianggap sebagai penanda dimulainya musim penghargaan film global. Tekanan dari kolektif Venice4Palestine menambah daftar panjang kampanye serupa yang menyasar festival-festival besar di Eropa dalam beberapa tahun terakhir.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari penyelenggara festival menanggapi surat terbuka tersebut. Yang jelas, publik dan komunitas seni kini menunggu sikap nyata, bukan sekadar pernyataan simbolis, dari salah satu panggung perfilman paling berpengaruh di dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS wendy-anwar

Reporter Travel. Menjelajah destinasi Indonesia dan tips wisata.

Comments (0)

User

Popular Posts

Recommended Posts

Popular Tags

Voting Poll