ISS Jadi Benteng Terakhir Kerja Sama Ilmiah Timur dan Barat
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh konflik geopolitik, Stasiun Antariksa Internasional (ISS) berdiri sebagai salah satu dari sedikit ruang di
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh konflik geopolitik, Stasiun Antariksa Internasional (ISS) berdiri sebagai salah satu dari sedikit ruang di mana musuh-musuh geopolitik masih mau duduk semeja. Bukan di ruang konferensi PBB yang penuh ketegangan, melainkan di laboratorium orbit setinggi 400 kilometer di atas permukaan Bumi. Di sana, astronot Amerika Serikat, Rusia, Eropa, Jepang, dan Kanada bekerja bahu-membahu menjalankan eksperimen yang tidak bisa dilakukan siapa pun sendirian.
Adalah Alban Guyomarc'h, peneliti Geopolitik Antariksa dari École Normale Supérieure, Paris, yang menyoroti fenomena ini dalam wawancara terbaru. Menurutnya, misi ISS terkini bukan sekadar pencapaian teknologi luar biasa. Ada dimensi yang jauh lebih penting: ISS adalah bukti hidup bahwa kerja sama lintas blok masih mungkin dilakukan, bahkan ketika retorika politik di Bumi semakin keras.
Ruang Kolaborasi yang Nyaris Punah
Sejak perang di Ukraina memanas dan rivalitas AS-Tiongkok meningkat tajam di berbagai sektor, banyak jalur diplomasi ilmu pengetahuan yang dibekukan. Program pertukaran peneliti dihentikan, akses data satelit dibatasi, dan konferensi internasional dibatalkan. Namun ISS tetap beroperasi. Rotasi kru tetap berjalan. Eksperimen tetap dikirim. Ini menjadikan ISS semacam anomali di era yang serba konfliktual.
"Ini adalah salah satu dari sedikit ruang kolaborasi yang masih kita miliki hari ini, di era yang sangat penuh konflik." — Alban Guyomarc'h, Peneliti Geopolitik Antariksa, École Normale Supérieure
Pernyataan itu terasa getir sekaligus melegakan. Getir karena menegaskan betapa sempitnya ruang kerja sama yang tersisa. Melegakan karena setidaknya masih ada satu tempat di mana sains diutamakan di atas politik identitas.
Mengapa ISS Bertahan?
Ada beberapa alasan mengapa ISS tidak ikut runtuh oleh tekanan geopolitik. Pertama, ketergantungan teknis yang sangat tinggi. Sistem propulsi, pasokan oksigen, dan manuver orbit bergantung pada modul dan kendaraan Rusia. Sebaliknya, pasokan daya listrik dan segmen besar stasiun dikendalikan Amerika Serikat. Memutus kerja sama berarti kedua pihak kehilangan kemampuan mengoperasikan stasiun.
Kedua, biaya yang sudah telanjur raksasa. Sejak diluncurkan pada 1998, ISS menelan dana lebih dari 150 miliar dolar AS. Menghentikannya secara mendadak berarti membuang investasi puluhan tahun hanya demi gengsi politik sesaat. Tidak ada negara yang mau menanggung kerugian itu.
Ketiga, tidak ada alternatif yang setara. Tiongkok memang punya stasiun Tiangong, tetapi kapasitasnya jauh lebih kecil dan tidak dirancang untuk kolaborasi multilateral seluas ISS. Stasiun komersial swasta masih dalam tahap awal dan belum bisa menggantikan peran ISS dalam riset mikrogravitasi jangka panjang.
| Aspek | ISS | Stasiun Lain |
|---|---|---|
| Negara terlibat | 15+ negara | Terbatas / bilateral |
| Biaya operasional | 3-4 miliar dolar/tahun | Jauh lebih kecil |
| Durasi misi berawak | Sejak tahun 2000 | Bervariasi |
Masa Depan yang Tidak Pasti
Meski bertahan, ISS bukanlah benteng abadi. Rencana pensiun stasiun ini terus bergeser, dari 2024 ke 2030, dan mungkin diperpanjang lagi jika modul komersial belum siap. Guyomarc'h menilai, jika ISS benar-benar dideorbit tanpa pengganti, dunia akan kehilangan bukan hanya laboratorium, melainkan juga simbol diplomasi paling murni yang pernah dimiliki umat manusia.
Dalam dunia yang sibuk membangun tembok dan menutup pintu, ISS masih membuka airlock-nya untuk semua. Mungkin inilah ironi terbesar abad ini: perdamaian justru lebih mudah dijaga di ruang hampa yang keras daripada di Bumi yang penuh prasangka.
Di tengah konflik global, Stasiun Antariksa Internasional tetap jadi satu-satunya laboratorium orbit tempat AS, Rusia, Eropa, Jepang, dan Kanada bekerja sama. • Ketergantungan teknis membuat pemutusan kerja sama merugikan semua pihak • Investasi lebih dari 150 miliar dolar AS sejak 1998 • Rencana pensiun ISS diperkirakan pada 2030 Peneliti geopolitik antariksa Alban Guyomarc'h menyebut ISS sebagai "salah satu dari sedikit ruang kolaborasi yang masih kita miliki." 🌍
Comments (0)