India Catat 5.737 Kematian Terkait Mahar Sepanjang 2024

India kembali menunjukkan sisi kelam dari tradisi pernikahan yang belum sepenuhnya mati. Sepanjang 2024, negara itu mencatat 5.737 kematian yang terkait de

India Catat 5.737 Kematian Terkait Mahar Sepanjang 2024

India kembali menunjukkan sisi kelam dari tradisi pernikahan yang belum sepenuhnya mati. Sepanjang 2024, negara itu mencatat 5.737 kematian yang terkait dengan mahar — setara dengan sekitar 16 perempuan setiap hari. Angka itu mengingatkan kita bahwa praktik pemberian harta dari keluarga pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki, yang sudah dilarang lebih dari enam dekade lalu, masih mengakar kuat di masyarakat India.

Mahar: Tradisi yang Dilarang, tetapi Tetap Hidup

Mahar atau dowry adalah transfer uang, perhiasan, elektronik, atau berbagai barang berharga dari keluarga mempelai perempuan saat pernikahan berlangsung. Dalam praktiknya, tuntutan mahar ini kerap berlanjut jauh setelah hari pernikahan, memicu perselisihan rumah tangga yang kadang berujung tragis. Ironisnya, India telah melarang praktik ini lewat Undang-Undang Mahar tahun 1961, namun realitas di lapangan berkata lain.

Kematian akibat mahar tercatat rata-rata sekitar 16 perempuan per hari sepanjang 2024 — bukti bahwa pelarangan hukum belum diikuti perubahan perilaku masyarakat.

Para koresponden kami melaporkan bahwa tekanan terhadap keluarga mempelai perempuan tidak mengenal kelas sosial. Kasus-kasus muncul di kota besar maupun desa terpencil, di kalangan keluarga miskin hingga keluarga menengah ke atas. Yang berubah hanyalah bentuknya: dari uang tunai menjadi transfer digital, dari perhiasan emas menjadi kendaraan bermotor dan properti.

Akar Masalah: Kasta, Ekonomi, dan Tekanan Sosial

Mengapa praktik ilegal ini masih bertahan? Beberapa faktor utama yang mendorongnya antara lain:

  • Norma sosial yang kuat — mahar lama-lama dianggap bagian "wajar" dari proses pernikahan.
  • Tekanan ekonomi — keluarga mempelai perempuan merasa harus membayar demi "harga diri" dan agar anak perempuan mereka tidak dipandang rendah.
  • Ketimpangan gender — anak laki-laki masih dipandang sebagai penopang masa depan keluarga, sementara anak perempuan dianggap "keluar rumah".
  • Penegakan hukum yang lemah — banyak keluarga korban enggan melapor karena takut stigma atau balasan dari mertua.
  • Korupsi dan birokrasi — proses hukum yang panjang membuat para pelaku jarang dihukum berat.

Jejak Trauma yang Tak Terlihat

Di balik statistik yang dingin itu, tersimpan kisah-kisah kemanusiaan yang pilu. Perempuan-perempuan yang menjadi korban sering menghadapi tekanan ganda: dirundung oleh mertua di satu sisi, dan ditinggalkan keluarga sendiri di sisi lain. Banyak dari mereka yang mengalami kekerasan fisik, pengucilan, hingga bunuh diri. Anak-anak mereka pun ikut terdampak, kehilangan ibu atau tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan.

Para aktivis hak perempuan menegaskan bahwa angka resmi tersebut kemungkinan besar hanya puncak gunung es. Banyak kasus yang tidak dilaporkan, atau sengaja dikategorikan sebagai kematian biasa agar kasus tidak sampai ke ranah hukum.

Upaya Perubahan dan Tantangan ke Depan

Pemerintah India sebenarnya tidak tinggal diam. Selain undang-undang anti-mahar, sejumlah negara bagian menjalankan program kesadaran publik, kampanye media, hingga klinik bantuan hukum gratis bagi korban. Namun perubahan nyata menuntut pendekatan jangka panjang: pendidikan perempuan yang lebih luas, pemberdayaan ekonomi keluarga, serta perubahan cara pandang masyarakat terhadap nilai seorang perempuan.

Selama mahar masih dianggap sebagai "investasi" untuk masa depan anak laki-laki, angka kematian itu kemungkinan akan terus berulang. Dan selama itu pula, sekitar 16 keluarga di India akan kehilangan seorang perempuan tercinta setiap hari — korban dari tradisi yang seharusnya sudah lama dimakamkan.

[SOCIAL_TWEAT]: 5.737 kematian terkait mahar di India sepanjang 2024 — rata-rata 16 perempuan per hari. Sudah dilarang sejak 1961, kenapa masih terus berulang? 🔴 #Mahar #India

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sasha-gunawan

Reporter Fashion & Beauty. Meliput tren mode, kecantikan, dan industri kreatif.

Comments (0)

User